Manajemen
yang secara etimoligis berpadanan dengan kata management memiliki arti
seni mengatur dan melaksanakan. Manajemen merupakan ilmu dalam perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari manusia untuk
menentukan capaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan (Lee, 2010).Tentunya,
peran manajemen sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur
segala pekerjaan. Manajemen berfungsi agar segala pekerjaan dapat terselesaikan
dengan baik secara tersistematis. Dengan demikian, prinsip manajemen yang
efektif merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan
sebuah manajemen baik dalam sebuah keluarga, grup maupun organisasi. Beranjak
dari gagasan tersebut, artikel ini akan mengungkapkan tujuh prinsip manajemen
yang efektif dan berkualitas.
Clear Vision
and Mission (Visi dan Misi
yang Jelas)
Visi
dan misi yang jelas merupakan prinsip manajemen yang pertama. Stephen R. Covey,
seorang tokoh kepemimpinan internasional yang ahli dalam soal keluarga,
konsultan organisasi dan pengajar kehidupan yang terpusat pada prinsip dan
kepemimpinan terpusat, mengungkapkan bahwa segalanya diciptakan dua kali:
pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan
organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu
menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan
menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam
benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip,
nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi
mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya.
Suatu
pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang
dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan
misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan
budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan
dalam mewujudkan manajemen yang efektif dan berkualitas.
Dengan
demikian, visi dan misi yang jelas merupakan hal utama dan yang paling utama
untuk disepakati bersama. Dengan visi yang kemudian diwujudkan dalam misi yang
disepakati bersama, maka sebuah organisasi dapat dijalankan secara terarah.
Attitude (Sikap)
Attitude (akhlak) merupakan bagian yang penting dalam berorganisasi. Tanpa attitude
yang baik, mungkin seseorang tidak akan pernah bisa diterima atau berinteraksi
dengan baik. Mengapa attitude sangat perlu untuk diperhatikan? Karena attitude
menyangkut bagaimana penilaian orang lain terhadap seseorang. Oleh karena itu,
untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan organisasi, seseorang harus memiliki
sikap yang baik di antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan bawahan dan
lain sebagainya. Attitude yang baik akan menciptakan kesalingpemahaman (mutual
understanding) yang akan menentukan kesuksesan suatu organisasi.
Sebuah
studi yang dilakukan di Harvard University menunjukkan bahwa ketika seseorang
mendapatkan pekerjaan atau promosi, 85% diantaranya disebabkan oleh attitude-nya,
dan hanya 15% yang disebabkan oleh pengetahuan dan kepandaian. Maka, fondasi
dari kesuksesan adalah attitude atau sikap diri. Untuk itu, attitude
sangatlah penting. Mengapa demikian? Karena ketika attitude kita benar,
kita sadar bahwa kesempatan selalu ada dalam genggaman kita. Kita tidak harus
pergi kemana-mana. Mungkin ada yang
terlintas bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun,
sesungguhnya ketika kita mengincar rumput tetangga, ada orang lain yang
mengincar rumput di tempat kita. Mereka akan senang untuk bertukar tempat
dengan kita. Oleh sebab itu, kenapa sangat penting untuk mengambil sikap dan
keputusan yang tepat di saat yang tepat? Karena sikap dan keputusan yang tepat
pada waktu yang salah akan menjadi keputusan yang salah.
Orang
dengan attitude yang positif mempunyai beberapa kepribadian yang mudah
dikenali. Mereka peduli, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka selalu
percaya akan hasil yang positif. Oleh sebab itu, attitude yang positif
harus terus ditumbuhkembangkan menjadi ciri kepribadian dominan kita.
Sebaliknya,
attitude yang negatif membawa kepada hidup yang tidak berarti, kesehatan
yang terganggu dan tingkat stress yang tinggi bagi mereka dan orang di
sekitarnya. Attitude yang negatif menciptakan lingkungan yang tidak
nyaman di rumah dan tempat kerja. Mereka menularkan attitude yang
negatif kepada orang-orang di sekitarnya.
Qualified Vs
Committed (Kompeten Vs
Berkomitmen)
Kompetensi
merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan anggota
dalam suatu orgaminasi. Seseorang yang kompeten (qualified) akan
memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan visi dan misi suatu
ornanisasi. Namun, kompetensi saja ternyata tidak cukup. Komitmen untuk
menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab merupakan kunci penting
tercapainya tujuan yang diinginkan. Seseorang yang kompeteten dan memiliki
komitmen yang positif (comitted) dalam mewujudkan visi dan misi sebuah
organisasi akan selalu bersemangat dan memotivasi rekan-rekan yang lain untuk
meraih tujuan yang telah disepakati bersama.
The Right Man
in The Right Place (Orang yang
Tepat di Tempat yang Tepat)
Selain
kompetensi dan komitmen, sikap yang positif dan visi serta misi yang jelas,
dalam mewujudkan manajemen organisasi yang efektif dan berkualitas, pembagian
kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan
kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam manajemen kita harus menggunakan
prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus
rasional/objektif, bukan emosional subjektif yang didasarkan pada like and
dislike.
Prinsip
orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place)
akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja.
Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. Kecerobohan
dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan
kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan. Oleh karena itu, seorang manajer
yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang
akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
Win – Win
Concept (Berpikir
Menang - Menang)
Stephen
R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People mengungkapkan
bahwa berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai
keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati (mutual
respect) dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan
pada kelimpahan yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya
yang berlimpah ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir
menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti
martir (kalah/menang). Dalam kehidupan organisasi, para anggotanya berpikir
secara saling tergantung dengan istilah “kita”, bukannya “aku”.
Berpikir
menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing
individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir
menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.
Effective
Communication (Komunikasi
Efektif)
Komunikasi
yang efektif merupakan syarat mutlak terciptanya sinergi dalam sebuah
organisasi. Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga: bukan caraku,
bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita
masing-masing. Memanfaatkan perbedaan perbedaan yang ada dalam mengatasi
masalah, memanfaatkan peluang. Organisasi yang sinergis memanfaatkan kekuatan
masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar sehingga akan
mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan
kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif
(1 + 1 = 3 atau lebih).
Komunikasi yang efektif akan menjadi
bingkai pola kerjasama dan efektivitas pembagian kerja yang didasarkan pada
prinsip the right man in the right place. Tanpa adanya komunikasi
interaktif di antara semua komponen yang ada dalam sebuah organisasi, akan
tercipta batasan-batasan yang membuat seseorang hanya bekerja pada bagian
tertentu saja. Mereka fokus dengan tugas mereka. Namun, mereka lupa akan visi
dan misi yang disepakati bersama. Namun demikian, hal tersebut tentu tidak akan
terjadi seandainya komunikasi yang efektif terjalin di antara setiap komponen
organisasi. Dengan komunikasi yang efektif, pola kerja akan didasarkan pada
sistem teamwork (kerja tim) yang didasarkan pada pencapaian visi dan
misi bersama.
Sharpening The
Saw (Konsep Asah Gergaji)
Mengasah
gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus baik secara fisik,
sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Hal inilah yang meningkatkan kapasitas
kita untuk menerapkan prinsip-prinsip efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, konsep
asah gergaji akan menggalakkan visi dan misi, pembaharuan, perbaikan
terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan
memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru.
Pada
akhirnya, manajemen adalah sistem yang akan menentukan kesuksesan atau
kemunduran suatu organisasi. Manajemen yang efektif dan berkualitas ditopang
oleh prinsip-prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas pula.
home
Home
Post a Comment