"Sini
nak, sun tangan dulu sama abi," sambil membetulkan kaus kaki yang
sedang dikenakannya ia memanggil ke dua putrinya yang tengah asyik di depan TV.
Ada serial Dora, acara favorit mereka. Mendengar panggilan sang Ayah, dua
balita itu berebut ke arahnya. Senyuman lelaki itu terkembang, tanpa menunggu
waktu, setelah sun tangan, anak-anak kecil itu diberikan kecupan, tak cukup,
satu persatu ia mengangkat tubuh si kecil dan didekapnya agak lama.
Abi
pergi dulu, nanti main sama teteh yah...", ia pun pamit diiringi
langkah-langkah kecil ke dua puterinya. Di pintu gerbang, sang Ayah melambaikan
tangan dan melemparkan sun jauh, masih ada senyum hangat di sana.
Pagi
baru saja beranjak. Sebetulnya ia masih ingin bercengkrama dengan mereka. Anak
pertamanya sekarang sudah mulai lancar berbicara. Ia tidak berkerut lagi untuk
mencerna perkataan putrinya. Dan adiknya sudah pandai berjalan, meski kadang
beberapa kali harus tersungkur karena masih kurang keseimbangan. Dua-duanya
perempuan. Lucu-lucu.
Jika
sudah bermain dengan mereka, ia seperti mendapatkan banyak kenikmatan. Binar
itu sungguh jelas menelaga di matanya. Maka, meninggalkan mereka menjadi hal
yang memberatkannya. Hari ini, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, besok dan
selanjutnya, pergi untuk waktu yang lama, berada di luar rumah meraup nafkah
halal adalah kewajiban yang tidak mungkin dilalaikannya. Ia sering kehilangan
waktu berharga dengan mereka. Tetapi, bukankah yang dilakukannya juga adalah
sebentuk cinta penuh makna untuk dua permata hatinya?
Para
Ayah, mungkin adalah orang-orang yang mempunyai konsekuensi jauh dari
anak-anak. Ya, karena umumnya seorang ayah harus berada di luar rumah dalam
waktu yang lama untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam hal mencari nafkah
keluarga. Untuk para ayah yang bekerja di kota besar, pergi pagi --bahkan jauh
sebelum matahari terbit-- pulang larut adalah hal yang teramat biasa. Sudah
lumrah malah, ketika akan ke kantor anak-anak masih bergumul di peraduan, dan
pada saat pulang pun ia mendapati anak-anaknya sudah jatuh di ujung lelap.
Bahkan, salah seorang rekan kerja, seringkali berhari-hari tidak pulang untuk
urusan pekerjaan yang harus diselesaikannya di kantor. Pertemuan dengan
anak-anak mungkin hanya saat si ayah libur bekerja.
Berbeda
dengan ibu --jika tidak bekerja-- yang setiap hari bisa mengurus secara
langsung buah hatinya. Mulai dari bangun tidur, memandikan, urusan makanan,
hingga persoalan sekolah dan tetek bengek keperluan sang anak. Ibulah yang
secara fisik berhubungan dengan mereka. Maka, tak heran anak cenderung lebih
dekat dengan ibu, dan biasanya ibulah yang menjadi tempat curhat anak-anaknya
ketika mereka dihadapkan dengan berbagai masalah.
Padahal,
kedekatan ayah dan anak sungguh sangat diperlukan. Tanggung jawab ayah tidak
hanya sebatas bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pemenuhan
kebutuhan itu hanya sebatas pada fisik saja, tidak secara emosi. Anak-anak
bukanlah robot, ia adalah manusia yang mempunyai hati dan jiwa. Anak-anak
adalah amanah dari Allah SWT. Ia butuh kasih sayang, perhatian dan bimbingan.
Jiwanya perlu pengarah. Hatinya tak akan kaya hanya diberi berlimpah materi. Ia
butuh sentuhan dan kehangatan. Dan semua kebutuhan ini tidak boleh hanya
dipenuhi dari ibunya saja. Peran ayah tidak kalah penting. Menurut para pakar
psikologi keluarga, sosok ayah berpengaruh terhadap konsep diri sang anak
kelak. Anak butuh keduanya. Sentuhan ibu dan arahan Ayah.
Tapi
bagaimana dengan masalah waktu yang dimiliki sang Ayah? Jarangnya ayah di rumah
tentunya mengurangi interaksi dengan mereka. Ini bukan alasan, hal tersebut
bisa disiasati. Karena sesungguhnya, yang paling penting adalah kualitas
pertemuan bukan hanya kuantitasnya. Ketika ada kesempatan berdekatan dengan
sang anak, sebaiknya para ayah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menanyakan
keadaan mereka, bermain-main, hingga membantu anak-anak mengerjakan PR atau hal
sepele lainnya. Dalam kesempatan bertemu dengan mereka, ajarkan nilai-nilai dan
akhlak yang baik.
Sesungguhnya
kedekatan itu bisa dibangun dengan berbagai cara, tidak hanya secara fisik
berdekatan dengan mereka. Toh, ketika mempunyai banyak waktu di rumah tetapi
perhatian ayah hanya kepada urusan kerja, tentu tidak akan ada artinya. Jika
ayah tidak bisa memantau perkembangan anak-anak secara langsung, ia bisa
bertanya kepada istrinya, ayah bisa meluangkan waktu walau hanya sebentar untuk
berkomunikasi entah melalui telpon, pesan sms atau fasilitas lainnya. Intinya
ayah selalu tahu perkembangan anak-anak yang diamanahkan Allah kepadanya.
Dan
ada yang jauh lebih bermakna. Dalam setiap sujud di waktu shalat, dalam
keheningan sepertiga malam terakhir, dalam setiap waktu luang dan lengang,
sempatkan menengadah pinta kepada Yang Maha Kuasa, mengurai berbagai harap
kepada Allah, tentang kebaikan sang anak. Membawa anak-anak dalam setiap doa,
bisa jadi sebuah sarana pembangun kedekatan antara anak dan ayah yang paling
indah.
Wallahu
a'lam
***
Referensi:
eramuslim.com
home
Home
Post a Comment