News Update :
Powered by Blogger.
Showing posts with label Al - Quran. Show all posts
Showing posts with label Al - Quran. Show all posts

ISLAM MENURUT AL-QURAN

Penulis : Jaruki A. Maulana on Sunday, 27 March 2016 | 17:49

Sunday, 27 March 2016

A. Pendahuluan
Banyak di antara umat Islam yang memeluk agama Islam hanya karena mereka dilahirkan dalam keluarga muslim. Dan banyak juga mereka yang mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan agamanya sebagaimana yang diperintahkan Allah. Dalam makalah ini kami tunjukkan beberapa ayat yang menjelaskan pentingnya mengetahui agama mana yang akan diterima Allah dan keharusan menjalankan Islam secara benar sesuai perintahNya.

B. Pembahasan
1. Pengertian
a. Menurut Bahasa Islam berasal dari kata Salima. Dari kata ini dapat diartikan menjadi beberapa arti antara lain ;
·         Islaamul Wajhi, menundukkan wajah (4:125).
·         Al Istislam, berserah diri (3:83).
·         As salaamah, keselamatan, kebersihan, kesehatan (26:89).
·         As salaam, selamat, sejahtera (6:54).
·         Assalm atau As silm, perdamaian, kedamaian (47:35).
Jadi kata Al Islam artinya jika kita tunduk dan berserah diri kepada allah Swt, maka kita selamat dan merasakan kedamaian hidup.[1]
b. Menurut Terminologi, Agama Islam adalah sebuah keyakinan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, yang bertujuan menyerahkan diri, taat dan patuh hanya kepada Allah Swt [2]

2. Ayat-ayat yang menerangkan Islam dalam Al qur’an
1. Islam Satu-satunya agama yang diterima Allah Swt.
a. Surat Ali Imran 19.
إن الدين عند الله الإسلام وما اختلف الذين أوتوا الكتاب إلا من بعد ما جاءهم العلم بغيا بينهم ومن يكفر بآيات الله فإن الله سريع الحساب
Artinya :”Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.(Q.S Ali Imran 19)
Penjelasan :
Syari’at yang diterima oleh Allah hanyalah Islam. Dan tidak ada agama yang diridhoiNya kecuali Agama Islam. Sebagaimana Q.S. Ali Imran 85 yang berbunyi:
ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين
Artinya :”Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS. Ali-Imran 85)

Apa-apa yang diperselisihkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani tentang Islam dan kenabian Muhammad Saw. Adalah setelah mereka mengetahui ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang nyata tentang kenabian Nabi Muhammad Saw. Bukan karena ketidaktahuan atau kesamaran mereka tentang agama Islam. tetapi karena kesombongan, kedengkian, dan ketakutan mereka kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin[3].

Kata Islam berarti menyerah, taat dan patuh. Jadi agama yang diterima Allah bukan hanya sekedar teori , atau sekedar pembenaran dalam hati saja. Tapi yang paling penting adalah melaksanakan teori itu dan merealisasikan pembenaran hati tersebut dalam tindakan nyata. Seperti menjadikan sistem Allah sebagai standar untuk menyelesaikan berbagai persoalan hamba, mematuhi ketentuan semua sistem itu, serta mengikuti semua arahan dari RasulNya.

b. Surat Ali Imran 83.
أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السماوات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون
Artinya : “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.(Q.S Ali Imran 83)
Penjelasan :
Secara lahiriyah dapat dipahami bahwa Islamnya Alam Semesta ini berarti kepatuhannya kepada perintah, sistem, dan ketentuan sang Pencipta. Hal ini bertujuan agar tidak menyusup kedalam otak manusia bahwa Islam itu sebatas kata yang diucapkan dengan lisan, atau hanya sekedar pembenaran dalam hati, kemudian tidak diikuti dengan tindakan nyata yang mencerminkan penyerahan diri kepada Allah dengan merealisasikan dalam kehidupan nyata.

Islam bukan hanya sekedar ritual-ritual ibadat, syiar-syiar kegamaan tanpa dioiringi dengan tindakan nyata, yaitu dengan menerapkan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu tidak ada berarti jika tidak berpengaruhnya terhadap kehidupan social, sehingga masyarakat hidup damai, aman dan bersih.[4]

2. Islam agama para Nabi-nabi terdahulu.
a. Q.S Ali Imran 67.
ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين
Artinya : “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Q.S. Ali Imran 67).
Penjelasan :
Pada ayat sebelumnya ditegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah penganut Yahudi atau Nasrani, Taurat dan Injil diturunkan setelah beliau. Selain ditegaskan pula bahwa Nabi Ibrahim tidak cenderung kepada agama apaun selain Islam. Beliau adala seorang Muslim dalam arti Komprehensif. Seperti yang diuraikan dalam ayat diatas :
وما كان من المشركين
Artinya :”dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Q.S. Ali Imran 67).
Hakikat ini terkandung dalam firman sebelumnya :
ولكن كان حنيفا مسلما
Artinya :”akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah).”

Pengungkapan ini menunjukkan beberapa hal, antara lain :
a. Orang-orang Yahudi dan Nasrani menganut keyakinan yang menyimpang adalah Musyrik, karena itu tidaklah mungkin Nabi Ibrahim menganut agama yahudi atau nasrani. Tapi beliau adalah orang yang lurus dan berserah diri kepada Allah (Islam).
b. Islam adalah agama Tauhid mutlaq, sementara Yahudi dan Nasrani agama yang penuh kemusyrikan.
c. Menolak klaim orang-orang musyrik dari golongan Quraisy yang mengatakan bahwa mereka pengikut Nabi Ibrahim dan menjaga peninggalannya yaitu ka’bah, padahal mereka adalah orang-orang musyrik.

Begitulah, keadaan Ahli Kitab yang aneh. Mereka mengaku mengikuti agama Allah. Namun, ketika “mereka diajak kepada kitab Allah supaya kitab itu itu menentukan hukum diantara mereka, kemudian sebagian mereka berpaling”( QS. 3:23) . Hal ini jelas bertentangan dengan pengakuan bahwa mereka mengikuti agama Allah. Allah tidak akan menerima agama selain Islam dan Islam tidak akan terwujud tanpa berserah diri kepadaNya, patuh pada RasulNya, mengikuti sistemNya serta menjadikan KitabNya sebagai pegangan untuk menata semua urusan kehidupan manusia.[5] Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Hajj 17
إن الذين آمنوا والذين هادوا والصابئين والنصارى والمجوس والذين أشركوا إن الله يفصل بينهم يوم القيامة إن الله على كل شيء شهيد
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”. (Q.S Al Hajj 17)

Menurut Al-Maraghi dalam Tafsirnya, bahwa memberi keputusan secara adil, memberi balasan sesuai dengan amalnya. Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman ke Syurga dan sebaliknya memasukkan bagi mereka yang mengingkariNya. Dan Allah mengetahui apa yang diucapkan mereka yang tidak sesuai dengan perbuatannya.[6]

b. Q.S. Asy-Syuura 13.
شرع لكم من الدين ما وصى به نوحا والذي أوحينا إليك وما وصينا به إبراهيم وموسى وعيسى أن أقيموا الدين ولا تتفرقوا فيه كبر على المشركين ما تدعوهم إليه الله يجتبي إليه من يشاء ويهدي إليه من ينيب
Artinya : “Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (Q.S Asy Syuraa 13).
Penjelasan :
Allah telah mensyari’atkan kepada nabi Muhammad Saw sebagaimana yang telah disyari’atkan kepada para nabi Ulul ‘azmi yaitu : Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa ‘Alaihim As-salam. dan mengkhususkan nabi Musa as. Kepada umat Yahudi, nabi Isa as. Kepada umat Nashrani. Akan tetapi mereka mendapat perintah yang sama yaitu menegakkan Dinul Islam atau agama Islam atau agama Tauhid. Dan dasar-dasar Syari’at dan Hukum semua sama seperti Iman kepada Allah, Hari Kiamat, malaikat, berbuat sesuai Akhlaqul Karimah dan lain-lain.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada umat Muhammad untuk menegakkan agama para Nabi yaitu agama Tauhid dengan benar dan ikhlas dan menjaganya jangan sampai menjadi orang yang meninggalkan dan menyimpang dari agama ini. Dan dilarang berpecah belah artinya melaksanakan sebagian isi agama Islam dan meninggalkan sebagiannya. Larangan ini adalah dalam hal dasar-dasar syari’at seperti keimanan kepada Allah, bukan masalah furu’iyahnya.[7] Sebagaimana firmanNya :
…..لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ….
Artinya :”Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Q.S. Al-Maidah 48)

Ajaran tauhid ini akan sangat berat dan sulit diterima oleh kaum Kafir karena kebiasaan mereka menyembah berhala dan bermacam-macam Tuhan. Dan ketakutan mereka meninggalkan adat istiadat yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka. Sebagaimana FirmanNya :
بل قالوا إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مهتدون
Artinya :”Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Q.S. Az-Zuhruf 22).
Setelah Allah memberi petunjuk kepada umat Islam untuk selalu berpegang teguh agama Islam atau agama Tauhid yaitu agama para Nabi terdahulu, Allah memilih orang yang dikehendakiNya dengan menuntunnya untuk beramal dan mengikuti ajaran-ajaran para NabiNya. Artinya barang siapa ingin mendapatkan petunjuk dan bimbingan Allah maka, ia harus mengikuti apa yang telah para Nabi ajarkan kepada umatnya. [8]

C. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kami simpulkan :
1.      Islam adalah satu-satunya agama, syar’iat dan aturan yang diterima Allah.
2.      Agama Islam dalam arti agama Tauhid merupakan agama yang di bawa oleh para Nabi terdahulu.
3.      Dalam menjalankan agama Islam jangan karena factor keturunan atau mengikuti ajaran nenek moyang atau melakukan pencampuran dengan ajaran-ajaran yang tidak ada contoh dari Nabi Muhammad Saw.

D. Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini.
Pada akhirnya, apabila ada kesalahan dan kekurangan dari kami, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan hanya Allah yang maha tahu segalanya.

Daftar Pustaka
1. Agenda Tarbiyah syarah Rasmul Bayan.
2. Qutb, Sayyid, Tafsir Fi Dzlalil Qur’an dibawah Naungan Qur’an,Jakarta, Rabbani Press, 2001,
3. ‘Aliy Ash-Shabuni, Muhammad, Tafsir Ash-Shabuni, Beirut, Daar Al-Fikr.
4. Musthafa Al-Maraghi, Ahmad, Tafsir Al-Maraghi, Beirut, Dar Al-Fikr.
5. Abu Dhahir Bin Ya’qub Al-Fairuz Abadiy, Tanwir Al Miqbas Min Tafsir Ibnu Abbas, Beirut, Daar Al-Fikr

[1] Agenda Tarbiyah syarah Rasmul Bayan, hal 70.
[2] Qutb, Sayyid, Tafsir Fi Dzlalil Qur’an dibawah Naungan Qur’an, Jakarta, Rabbani Press, 2001,
hal 207
[3] ‘Aliy Ash-Shabuni, Muhammad, Tafsir Ash-Shabuni, Beirut, Daa⁲ Al-Fikr.
[4] Qutb, Sayyid, Tafsir Fi Dzlalil Qur’an dibawah Naungan Qur’an, Jakarta, Rabbani Press, 2001,
hal 308-309
[5] Qutb, Sayyid, Tafsir Fi Dzlalil Qur’an dibawah Naungan Qur’an, Jakarta, Rabbani Press, 2001,
hal 286
[6] Musthafa Al-Maraghi, Ahmad, Tafsir Al-Maraghi, Beirut, Dar Al-Fikr, Jilid 6 Hal 99.
[7] Musthafa Al-Maraghi, Ahmad, Tafsir Al-Maraghi, Beirut, Dar Al-Fikr, Jilid 9 Hal 24.
[8] Musthafa Al-Maraghi, Ahmad, Tafsir Al-Maraghi, Beirut, Dar Al-Fikr, Jilid 9 Hal 26.


comments | | Read More...

The 7 Principles of The Quality Management

Manajemen yang secara etimoligis berpadanan dengan kata management memiliki arti seni mengatur dan melaksanakan. Manajemen merupakan ilmu dalam perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari manusia untuk menentukan capaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan (Lee, 2010).Tentunya, peran manajemen sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur segala pekerjaan. Manajemen berfungsi agar segala pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik secara tersistematis. Dengan demikian, prinsip manajemen yang efektif merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen baik dalam sebuah keluarga, grup maupun organisasi. Beranjak dari gagasan tersebut, artikel ini akan mengungkapkan tujuh prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas.

Clear Vision and Mission (Visi dan Misi yang Jelas)
Visi dan misi yang jelas merupakan prinsip manajemen yang pertama. Stephen R. Covey, seorang tokoh kepemimpinan internasional yang ahli dalam soal keluarga, konsultan organisasi dan pengajar kehidupan yang terpusat pada prinsip dan kepemimpinan terpusat, mengungkapkan bahwa segalanya diciptakan dua kali: pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya.
Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan dalam mewujudkan manajemen yang efektif dan berkualitas.
Dengan demikian, visi dan misi yang jelas merupakan hal utama dan yang paling utama untuk disepakati bersama. Dengan visi yang kemudian diwujudkan dalam misi yang disepakati bersama, maka sebuah organisasi dapat dijalankan secara terarah.

Attitude (Sikap)
Attitude (akhlak) merupakan bagian yang penting dalam berorganisasi. Tanpa attitude yang baik, mungkin seseorang tidak akan pernah bisa diterima atau berinteraksi dengan baik. Mengapa attitude sangat perlu untuk diperhatikan? Karena attitude menyangkut bagaimana penilaian orang lain terhadap seseorang. Oleh karena itu, untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan organisasi, seseorang harus memiliki sikap yang baik di antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan bawahan dan lain sebagainya. Attitude yang baik akan menciptakan kesalingpemahaman (mutual understanding) yang akan menentukan kesuksesan suatu organisasi.
Sebuah studi yang dilakukan di Harvard University menunjukkan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan atau promosi, 85% diantaranya disebabkan oleh attitude-nya, dan hanya 15% yang disebabkan oleh pengetahuan dan kepandaian. Maka, fondasi dari kesuksesan adalah attitude atau sikap diri. Untuk itu, attitude sangatlah penting. Mengapa demikian? Karena ketika attitude kita benar, kita sadar bahwa kesempatan selalu ada dalam genggaman kita. Kita tidak harus pergi   kemana-mana. Mungkin ada yang terlintas bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun, sesungguhnya ketika kita mengincar rumput tetangga, ada orang lain yang mengincar rumput di tempat kita. Mereka akan senang untuk bertukar tempat dengan kita. Oleh sebab itu, kenapa sangat penting untuk mengambil sikap dan keputusan yang tepat di saat yang tepat? Karena sikap dan keputusan yang tepat pada waktu yang salah akan menjadi keputusan yang salah.
Orang dengan attitude yang positif mempunyai beberapa kepribadian yang mudah dikenali. Mereka peduli, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka selalu percaya akan hasil yang positif. Oleh sebab itu, attitude yang positif harus terus ditumbuhkembangkan menjadi ciri kepribadian dominan kita.
Sebaliknya, attitude yang negatif membawa kepada hidup yang tidak berarti, kesehatan yang terganggu dan tingkat stress yang tinggi bagi mereka dan orang di sekitarnya. Attitude yang negatif menciptakan lingkungan yang tidak nyaman di rumah dan tempat kerja. Mereka menularkan attitude yang negatif kepada orang-orang di sekitarnya.

Qualified Vs Committed (Kompeten Vs Berkomitmen)
Kompetensi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan anggota dalam suatu orgaminasi. Seseorang yang kompeten (qualified) akan memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan visi dan misi suatu ornanisasi. Namun, kompetensi saja ternyata tidak cukup. Komitmen untuk menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab merupakan kunci penting tercapainya tujuan yang diinginkan. Seseorang yang kompeteten dan memiliki komitmen yang positif (comitted) dalam mewujudkan visi dan misi sebuah organisasi akan selalu bersemangat dan memotivasi rekan-rekan yang lain untuk meraih tujuan yang telah disepakati bersama.

The Right Man in The Right Place (Orang yang Tepat di Tempat yang Tepat)
Selain kompetensi dan komitmen, sikap yang positif dan visi serta misi yang jelas, dalam mewujudkan manajemen organisasi yang efektif dan berkualitas, pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam manajemen kita harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subjektif yang didasarkan pada like and dislike.
Prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. Kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan. Oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

Win – Win Concept (Berpikir Menang - Menang)
Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People mengungkapkan bahwa berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati (mutual respect) dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan organisasi, para anggotanya berpikir secara saling tergantung dengan istilah “kita”, bukannya “aku”.
Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Effective Communication (Komunikasi Efektif)
Komunikasi yang efektif merupakan syarat mutlak terciptanya sinergi dalam sebuah organisasi. Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga: bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Organisasi yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar sehingga akan mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2).  Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).
Komunikasi yang efektif akan menjadi bingkai pola kerjasama dan efektivitas pembagian kerja yang didasarkan pada prinsip the right man in the right place. Tanpa adanya komunikasi interaktif di antara semua komponen yang ada dalam sebuah organisasi, akan tercipta batasan-batasan yang membuat seseorang hanya bekerja pada bagian tertentu saja. Mereka fokus dengan tugas mereka. Namun, mereka lupa akan visi dan misi yang disepakati bersama. Namun demikian, hal tersebut tentu tidak akan terjadi seandainya komunikasi yang efektif terjalin di antara setiap komponen organisasi. Dengan komunikasi yang efektif, pola kerja akan didasarkan pada sistem teamwork (kerja tim) yang didasarkan pada pencapaian visi dan misi bersama.
Sharpening The Saw (Konsep Asah Gergaji)
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus baik secara fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Hal inilah yang meningkatkan kapasitas kita untuk menerapkan prinsip-prinsip efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, konsep asah gergaji akan menggalakkan visi dan misi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru.


Pada akhirnya, manajemen adalah sistem yang akan menentukan kesuksesan atau kemunduran suatu organisasi. Manajemen yang efektif dan berkualitas ditopang oleh prinsip-prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas pula.
comments | | Read More...

Blogger news

About

datarislamiyah.blogspot.co.id adalah media dakwah dan tarbiyah Islam Indonesia.

Blogroll

 
Design Template by Jaruki A. Maulana | Supported by Editor | Powered by Blogger