News Update :
Powered by Blogger.
Showing posts with label As - Sunnah. Show all posts
Showing posts with label As - Sunnah. Show all posts

Bi'tsah (PENGANGKATAN) NABI MUHAMMAD SAW.

Penulis : Jaruki A. Maulana on Sunday, 27 March 2016 | 17:57

Sunday, 27 March 2016

TUJUAN UMUM MATERI
  1. Mengokohkan hubungan peserta dengan perjalanan hidup Rasulullah saw. menteladani secara baik beliau saw., serta mengambil berbagai pelajaran dan ibrah.
  2. Mengajak peserta untuk merenungi berbagai tata cara pengaturan dan manajemen yang ditetap Rasulullah saw. untuk menegakkan negara Islam di Madinah.

Penjelasan

1.    MULAI TURUN WAHYU, MASA JEDA DAN KEMBALI TURUN 

TAMHID (PENGANTAR)

Semula nabi Muhammad saw. tinggal di Mekah dengan tenang dan tenteram, ditemani istrinya yang sangat cerdas dan penuh cinta, Khadijah binti Khuwailid ra. Beliau dikenal di tengah-tengah kaumnya sebagai orang yang shidq (benar) dan amanah (terpercaya) dalam semua urusan, disertai dengan pengalaman dan kemahirannya dalam bidang perniagaan.

Amanah dan shidiqnya  Nabi Muhammad saw sangat terkenal, sehingga di Makkah sehingga mereka memberikan gelar Ash-Shadiq (orang yang benar) dan Al-Amin (yang terpercaya) berpadu dengan keistimewaan lainnya mulai dari kecerdasan, pikiran yang lurus, pengelolaan masalah dengan indah. Dan kita sudah membahas keindahannya dalam mendamaikan kaumnya dengan sangat istimewa dalam  masalah hajar aswad ketika merenovasi ka’bah.

A.  KECENDERUNGAN  MERENUNG DAN BERFIKIR


Nabi Muhammad saw adalah simbol manusia sempurna, lewat keindahan akhlaqnya, lurus prilakunya, kebersihan fitrahnya, keluasan pengalaman  hidupnya, mulai berdagang ketika masih kecil, berangkat ke Syam  untuk berdagang dalam perjalanan musim dingin, yang dengan safar dan dagang itu  memberinya pengalaman tentang manusia, berperan serta bersama mereka dalam kehidupan nyata, memperluas wawasan.

Semua pekerjaan, perniagaan, dan keluarganya tidak merubahnya dari perenungan dan berfikir tentang kekuasaan langit dan bumi. Tidak merubahnya dari tabiatnya yang lama terdiam, suka berkhalwat (menyendiri) dari kaumnya, sehingga ia lepas dari kesibukannya. Apa yang dilakukan kaumnya yang menyembah berhala yang mereka buat sendiri, tidak nyaman di matanya, dan tidak dapat diterima akalnya.

Hal ini terjadi bukan karena kekerdilan jiwa atau menghindari kehidupan sosial. Beliau terlibat aktif dalam hilful fudhul sebelum Islam. Demikian juga statusnya sebagai pedagang tidak mungkin menyendiri dari komunitas kaumnya. Akan tetapi khalwah itu disebabkan oleh ketinggian jiwa, kemuliaan diri dari kehinaan kaumnya yang terbiasa dengan tradisi nenek moyangnya, seperti menyembah berhala, minum khamr, berjudi, berlebihan dalam kelalaian dan kenikmatan, makan harta orang lain dengan bathil.

Nabi Muhammad saw. tidak termasuk dalam  kelompok orang-orang yang disibukkah oleh urusan hidupnya sehingga kehilangan perhatian dan pemikirannya, akan tetapi orang yang senang berfikir tentang alam semesta, langit dan bumi, dan yang ada di antara keduanya. Mencari rahasia alam semesta ini, Penciptanya, tujuan keberadaan alam semesta dan manusia.

Dari itulah beliau hidup sejak mudanya dengan perjalanan hidup yang bersih, catatan kenangan yang indah. Tak seorangpun yang dapat mencela akhlaknya atau popularitasnya. Nabi Muhammad saw tidak pernah terlibat dalam penyembahan berhala bersama dengan kaumnya, tidak pernah sekalipun bersujud pada berhala.

B.   KHALWAT DI GUA HIRA

Ketika Nabi Muhammad telah berusia empat puluh tahun, Beliau mulai mengalami kejadian yang merubah total hidupnya, sebagaimana perubahan sejarah menusia keseluruhannya.

Dalam keadaan terjaga Beliau lihat dengan jelas kejadian yang dilihatnya dalam mimpinya. Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ  مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيًا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

"Mula-mula yang Rasulullah saw. alami adalah mimpi yang baik ketika tidur, lalu tidak ada yang terlihat dalam mimpinya itu kecuali datang seperti cerahnya pagi." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian Rasulullah saw. senang berkhalwat, menyendiri dan menjauhi khalayak ramai, berdzikir mengingat Allah swt, merenungkan ayat-ayat dalam ciptaan-Nya. Maka Beliau jadikan bulan Ramadhan sebelum masa kenabian sebagai waktu khusus untuk beribadah, Beliau tahannuts beberapa malam di gua Hira, sebuah gua di sekitar Makkah di atas bukit yang tinggi. Di sinilah diam panjang berlangsung, hati dibersihkan dari seluruh kesibukan duniawi. Untuk khalwah ruhiyah ini Rasulullah saw. berbekal makanan dan air, berdiam di gua untuk berdzikir dan berfikir. Fikirannya disibukkan oleh alam semesta yang demikian agung, berisi ayat-ayat nyata. Dalam khalwat itulah Nabi Muhammad menemukan kejernihan jiwa, ketenangan batin, dan kebahagiaan ruhnya.

C.   MULAI TURUN WAHYU DAN PENGANGKATAN KENABIAN

Pada malam tujuh belas Ramadhan tahun ketiga belas sebelum hijrah (Februari 610 M), ketika Rasulullah berada di gua Hira, melakukan seperti yang dilakukan setiap tahun, Beliau dikejutkan oleh Jibril as. terjadi dialog antara keduanya:

Jibril as         : Bacalah!
Muhammad    : Saya tidak bisa membaca (saya belum pernah belajar membaca dan menulis).

Kemudian Jibril memeluknya dengan pelukan kuat, kemudian dilepaskan dan berkata lagi

Jibril as         : Bacalah!
Muhammad    : Saya tidak bisa membaca

Kemudian Jibril memeluknya dengan pelukan kuat ke dadanya, lalu melepaskannya dan berkata:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan menggunakan pena ,(Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-'Alaq: 1-5)

Inilah ayat Al-Qur’an pertama yang turun di hati Nabi Muhammad saw. Turun di bulan Ramadhan pada malam berkah yaitu malam lailatul-qadr pertama yang Allah terangkan kedudukannya:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.[1] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5)
 
Al-Qur’an mulai turun pertama kali pada malam lailatul-qadr. Jibril turun pada malam  penuh berkah, malam yang terbebaskan dari seluruh kejahatan dan syetan. Malam yang paling mulia bagi manusia, karena merupakan kejadian istimewa, yang menandai era baru dan mulai terpilihnya Muhammad saw. sebagai Nabi.

D.   DAMPAK KETERKEJUTAN DALAM DIRI NABI MUHAMMAD SAW

Malaikat Jibril as. mengejutkan Nabi Muhammad saw. ketika di gua hira saat beribadah kepada Allah. Jibril membacakan awal surah Al-'Alaq, sebagian ayat dari Kitabullah. Dekapan Jibril as. dengan yang sangat kuat itu untuk meyakinkan Nabi Muhammad saw, bahwa Beliau dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan  tidur, kedua matanya tidak menipunya, hatinya tidak mendustakannya, dan yang mengajaknya bicara adalah Malaikat yang mulia, bukan syetan terkutuk.

Rasulullah saw. mengalami demam karena kejadian dan peristiwa yang sangat mengagetkan itu. Maka Rasulullah saw pulang ke rumahnya menemui isterinya, Khadijah dengan hati berdebar-debar, dan gemetar badannya karena kejadian yang baru saja dialami. Ia ceritakan peristiwa itu kepada isterinya, dan memintanya untuk menyelimutinya:
دَثِّرُوْنِي .. . زَمِّلُوْنِي!!
"Selimuti aku… selimuti aku."

 

E.   KEBERADAAN KHADIJAH RA DI SISI NABI MUHAMMAD SAW

Isteri shalihah itu segera menyelimuti suaminya yang mulia itu agar dapat beristirahat dengan tenang. Maka ketika Nabi saw. sudah bangun dari tidurnya itu, Beliau sampaikan peristiwa di gua Hira itu kepadanya dan berkata:
لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي
“Sesungguhnya aku sangat takut pada diriku sendiri”

Ia takut jika peristiwa ini adalah permainan syetan, atau keburukan yang akan dialaminya nanti. Akan tetapi jauh sekali kemungkinan bagi Allah Yang Maha Pemurah menghinakan seorang yang mulia akhlaqnya, harum jejaknya. Karena keindahan akhlaq dan sikap yang disaksikan oleh Khadijah ra, maka ia mengatakan dengan jujur penuh rasa dan logika, kekaguman akan pribadinya yang mulia:

كَلاَّ وَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ الله أَبَداً إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتُقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ "

"Tidaklah demikian! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkaulah orang yang menyambung silaturrahim, benar dalam bertutur kata, mampu memikul beban berat, membantu orang yang tidak berada, memuliakan tamu dan membantu pencari kebenaran."[2]


F.    DI DEPAN WARAQAH BIN NAUFAL

Kalimat Khadijah ra. memberikan ketenangan, kedamaian dan harapan  ke dalam hati Rasulullah saw. Agar suaminya yang agung itu semakin tenang, Khadijah ra. membawanya ke rumah Waraqah bin Naufal, anak pamannya, seorang Nasrani di masa jahiliyah yang memiliki ilmu tentang agama-agama terdahulu. Ia meminta kepada Waraqah agar menyampaikan sesuatu kepada Muhammad saw.

Maka ketika Nabi Muhammad  menceritakan apa yang dialaminya di gua Hira, Waraqah berkata: “Itulah malaikat yang pernah datang kepada Musa, maksudnya adalah jibril as yang Allah tugaskan untuk menyampaikan risalah dan kitab-Nya kepada para nabi dan rasul. ”Waraqah berkhayal seandainya ia masih muda ia ingin membela Nabi yang mulia ini, dan melindunginya ketika kaumnya memusuhi dan mengusirnya dari negerinya.

Nabi Muhammad saw heran dengan penjelasan Waraqah ini dan bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?”  Maka Waraqah menegaskan: “Bahwa ini adalah keadaan para Rasul yang datang seperti yang ada pada Nabi Muhammad. Sesungguhnya musuh para Rasul itu adalah al-mutrafin (orang-orang kaya) para pelaku kejahatan. Mereka tidak akan membiarkan para Rasul menyerukan agama Allah dengan aman dan damai.”

Dengan pertemuan ini maka sempurnalah sikap Khadijah yang mulia itu. Rasulullah merasa tenang dan optimis dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Karunia besar dan pilihan langsung dari-Nya. Satu kabar gembira tentang kenabian.


2.   JEDA WAKTU TIDAK TURUN WAHYU, LALU KEMBALI TURUN

Setelah itu tidak lagi turun wahyu, Jibril tidak pula datang menemui. Beberapa waktu lamanya Nabi Muhammad saw tidak pergi ke gua Hira, karena Beliau beribadah bukan untuk menjadi Nabi atau menunggu kedatangannya. Tidak juga untuk mempersiapkan dirinya menerima risalah. Tidak pernah terbayangkan dalam dirinya bahwa Beliau akan menjadi Nabi.

Kemudian beliau berkhalwat untuk berzikir dan bertafakur tentang ciptaan Allah. Beliau habiskan beberapa malam, di gua hira dengan mempersiapkan sekantung kurma dan air sebagaimana biasanya.

Ketika berjalan menuju Makkah Beliau mendengar suara memanggil: “Ya Muhammad!” Beliau menoleh di sekelilingnya, kiri dan kanan, tidak melihat seorangpun. Menoleh ke belakang tidak ada juga seorangpun. Lalu ia meneruskan perjalanannya. Suara itu terdengar kembali: “Ya Muhammad!” Beliau arahkan pandangannya ke langit, dan melihat wajah yang pernah dilihatnya pertama kali di gua Hira, turun dari langit, dalam bentuk asli malaikat, yang kedua sayap besarnya menutup cakrawala, kemudian mendekatinya, sehingga sejauh dua busur dari Nabi atau lebih dekat lagi, dan menyerukan: “Ya Muhammad, saya Jibril, dan sesungguhnya engkau adalah Rasulullah (utusan Allah)”.

Kemudian menyampaikan firman Allah kepadanya:

"Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, gungkanlah! Dan pakaianmu, bersihkanlah, dan perbuatan, dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (Al-Muddatstsir: 1-7)


TUGAS BERTABLIGH

Dengan beberapa ayat dari surah Al-Muddatstsir ini jelaslah makna firman Allah kepada Rasul-Nya: Wahai orang yang masih tertidur, yang tertutup selimut! Bangunlah, peringatkanlah penduduk Makkah, peingatkalah mereka akan Adzab Allah, jika mereka tidak berserah diri (Islam). Dan kamu wajib mengagungkan Pelindungmu, Penguasamu, dan Yang memperbaiki urusanmu. Bertakbir mengagungkan-Nya, sehingga engkau selalu mengakui kebesaran dan keagungan-Nya. Dia Maha Besar dari para sekutu. Hendaklah kamu bersihkan pakaianmu, menjaganya dari najis. Demikian juga membersihkan jiwa dari dosa. Tinggalkanlah berhala dan patung, jangan menyembahnya, karena ia adalah penyebab adzab. Jika kamu melakukan tugas dawah dan peran kenabian maka jangan sekali-kali merasa berat dan menganggap dirimu melakukan banyak hal bagi Tuhanmu. Jika kamu melakukan amal kebaikan, atau menolong seseorang maka carilah ridha Allah saja. Sadarilah bahwa engkau telah membawa urusan yang besar. Engkau akan diperangi oleh bangsa Arab dan yang bukan Arab karenanya. Maka bersabarlah karena Allah.

Demikianlah Nabi Muhammad saw. berkewajiban memperingatkan dan menyampaikan. Disamping peran kenabian beliau juga mendapatkan peran kerasulan dari Allah bagi manusia.

Setelah itu wahyu turun dari waktu ke waktu tanpa ada jeda dan putus di waktu yang lama. Dan Rasulullah saw. mulai berda’wah.


PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

1.    Merenungkan ayat dan ciptaan Allah adalah sarana penting yang mengantarkan manusia mengenal Allah swt. dan mengesakan-Nya
2.    Setiap muslim berkewajiban menyediakan waktu harian atau pekanan untuk berkhalwat dengan Rabbnya, mengevaluasi dirinya, merasa dalam pengawasan Rabbnya, memikirkan ciptaan dan ayat-Nya, melepaskan diri dari material dunia dan kesenangannya. Sebagaimana ibadah yang jauh dari mata kebanyakan orang adalah sarana penting untuk ikhlas, dan membersihkan diri dari noda, mengembalikan kebersihan dan kesuciannya.
3.    Banyak memikirkan ayat dan nikmat Allah akan melahirkan rasa cinta dan mengagungkan Allah, memperkecil material dunia di matanya, khususnya jika zikir itu disertai dengan membaca kitab-Nya.
4.    Menjauhkan diri dari tempat yang tidak baik adalah salah satu bentuk dan salah satu level pengingkaran. Sehingga Rasulullah saw. meninggalkan segala macam bentuk kesesatan yang ada di tengah-tengah kaumnya, dan berkhalwat dengan Rabbnya jauh dari kaumnya.
5.    Para kader da’wah harus bisa melakukan rihlah darat, laut atau kebun, untuk menjauhkan diri sesaat dari material duniawi, menemukan hakekat hidupnya dan merenungkan ayat-ayat Allah dan karunia nikmat di sana.
6.    Khalwah Rasulullah saw tidak boleh difahami sebagai uzlah (penyendirian) dari kehidupan dunia, umat manusia seperti anggapan sebagian orang, atau yang dilakukan sebagian orang yang menamakan dirinya tasawwuf. Rasulullah adalah orang yang berada bersama dengan kaumnya dalam semua kegiatan positif dan berguna. Jika tidak karena itu kaumnya tidak akan menyetujuinya dalam peletakan hajar aswad, akan tetapi khalwat Nabi adalah salah satu bentuk pembaharuan hidup dan perenungan makhluk Allah, evaluasi diri dan berkhalwat dengan Rabbnya.
7.    Kenabian tidak bisa diperoleh dengan usaha, seperti yang difahami sebagian orang, jika ia melakukan sesuatu ia akan sampai pada apa yang telah dicapai oleh Rasulullah saw. Akan tetapi kenabian dan kerasulan adalah pilihan langsung dari Allah. Firman Allah:
"Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Hajj: 75)

8.    Baca tulis berperan besar dalam agama ini, sehingga wahyu pertama yang turun berkaitan dengan hal ini.
9.    Bentuk dan cara yang ditampilkan Malaikat Jibril  kepada Rasulullah saw menutup jalan bagi para pembual yang mengatakan: Bahwa sesungguhnya wahyu adalah jenis kebersihan jiwa. Lalu apa artinya malaikat itu datang dengan bentuk seperti ini, dan kenapa ia mendekap Rasulullah saw tiga kali, padahal sangat mungkin kedatangan pertama itu dalam bentuk yang paling mudah, atau pada waktu tidur misalnya?
10. Firasat seorang wanita shalihah, ungkapan Khadijah ra kepada Rasulullah saw ketika merasa ketakutan atas dirinya: “Tidaklah demikian, Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu kapanpun saja”. Lalu menyebutkan sifat-sifat dan prilaku mulianya. Dan orang yang memiliki sifat serta prilaku seperti ini maka Allah pasti akan bersamanya, menolong, membantu dan melindunginya, tidak akan menghinakannya. Demikianlah seharusnya setiap wanita shalihah bersikap bersama dengan suaminya. Menguatkan semangatnya, menopangnya menegakkan tugas dakwah, tidak pernah menjadi hambatan penegakan risalah
11. Urgensi bertanya kepada orang yang ahli, merujuk kepadanya. Khadijah dengan segera membawa Rasulullah saw ke Waraqah bin Naufal, orang yang dianggap mengetahui agama-agama terdahulu, sehingga masalahnya menjadi jelas. Dan ia memberikan kabar gembira bahwa dia adalah nabi bagi umat ini, dan yang mendatanginya di gua Hira adalah malaikat yang datang dari Allah , bukan jin.
12. Sesungguhnya sunnatullah dalam da;wah ini adalah satu, seperti yang disampaikan oleh Waraqah kepada Rasulullah saw, bahwa kaumnya akan memusuhinya, menyakitinya, dan bahkan mengusir dari negerinya. Dan inilah kondisi para Rasul.
13. Risalah dan tabligh (menyampaikan) adalah beban berat, sehingga harus dipikul oleh orang kuat. Dari itulah Allah swt mempersiapkan Rasul-Nya dengan qiyamullail, seperti yang ada dalam surah Al Muzzammil:

"Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari [3], kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.     Lalu menerangkan alasan hal ini." (Al-Muzammil: 1-4)

"Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil: 5).

14. Maka para kader harus memperhatikan bekal  ruhiyah, dengan qiyamullail, zikrullah, tilawah Al-Qur’an, dll. Inilah bekal terbaik untuk memikul amanah, melaksanakan tugas da’wah, bukan dengan istirahat, santai dan tidur.



[1] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al-Qur'an.         
[2]  Diakatakan hal itu karena ia merupakan akhlak mulia bagi masyarakat Arab.
[3]  Sembahyang malam Ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah Turunnya ayat ke 20 Ini hukumnya menjadi sunat.

comments | | Read More...

The 7 Principles of The Quality Management

Manajemen yang secara etimoligis berpadanan dengan kata management memiliki arti seni mengatur dan melaksanakan. Manajemen merupakan ilmu dalam perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari manusia untuk menentukan capaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan (Lee, 2010).Tentunya, peran manajemen sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur segala pekerjaan. Manajemen berfungsi agar segala pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik secara tersistematis. Dengan demikian, prinsip manajemen yang efektif merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen baik dalam sebuah keluarga, grup maupun organisasi. Beranjak dari gagasan tersebut, artikel ini akan mengungkapkan tujuh prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas.

Clear Vision and Mission (Visi dan Misi yang Jelas)
Visi dan misi yang jelas merupakan prinsip manajemen yang pertama. Stephen R. Covey, seorang tokoh kepemimpinan internasional yang ahli dalam soal keluarga, konsultan organisasi dan pengajar kehidupan yang terpusat pada prinsip dan kepemimpinan terpusat, mengungkapkan bahwa segalanya diciptakan dua kali: pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya.
Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan dalam mewujudkan manajemen yang efektif dan berkualitas.
Dengan demikian, visi dan misi yang jelas merupakan hal utama dan yang paling utama untuk disepakati bersama. Dengan visi yang kemudian diwujudkan dalam misi yang disepakati bersama, maka sebuah organisasi dapat dijalankan secara terarah.

Attitude (Sikap)
Attitude (akhlak) merupakan bagian yang penting dalam berorganisasi. Tanpa attitude yang baik, mungkin seseorang tidak akan pernah bisa diterima atau berinteraksi dengan baik. Mengapa attitude sangat perlu untuk diperhatikan? Karena attitude menyangkut bagaimana penilaian orang lain terhadap seseorang. Oleh karena itu, untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan organisasi, seseorang harus memiliki sikap yang baik di antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan bawahan dan lain sebagainya. Attitude yang baik akan menciptakan kesalingpemahaman (mutual understanding) yang akan menentukan kesuksesan suatu organisasi.
Sebuah studi yang dilakukan di Harvard University menunjukkan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan atau promosi, 85% diantaranya disebabkan oleh attitude-nya, dan hanya 15% yang disebabkan oleh pengetahuan dan kepandaian. Maka, fondasi dari kesuksesan adalah attitude atau sikap diri. Untuk itu, attitude sangatlah penting. Mengapa demikian? Karena ketika attitude kita benar, kita sadar bahwa kesempatan selalu ada dalam genggaman kita. Kita tidak harus pergi   kemana-mana. Mungkin ada yang terlintas bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun, sesungguhnya ketika kita mengincar rumput tetangga, ada orang lain yang mengincar rumput di tempat kita. Mereka akan senang untuk bertukar tempat dengan kita. Oleh sebab itu, kenapa sangat penting untuk mengambil sikap dan keputusan yang tepat di saat yang tepat? Karena sikap dan keputusan yang tepat pada waktu yang salah akan menjadi keputusan yang salah.
Orang dengan attitude yang positif mempunyai beberapa kepribadian yang mudah dikenali. Mereka peduli, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka selalu percaya akan hasil yang positif. Oleh sebab itu, attitude yang positif harus terus ditumbuhkembangkan menjadi ciri kepribadian dominan kita.
Sebaliknya, attitude yang negatif membawa kepada hidup yang tidak berarti, kesehatan yang terganggu dan tingkat stress yang tinggi bagi mereka dan orang di sekitarnya. Attitude yang negatif menciptakan lingkungan yang tidak nyaman di rumah dan tempat kerja. Mereka menularkan attitude yang negatif kepada orang-orang di sekitarnya.

Qualified Vs Committed (Kompeten Vs Berkomitmen)
Kompetensi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan anggota dalam suatu orgaminasi. Seseorang yang kompeten (qualified) akan memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan visi dan misi suatu ornanisasi. Namun, kompetensi saja ternyata tidak cukup. Komitmen untuk menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab merupakan kunci penting tercapainya tujuan yang diinginkan. Seseorang yang kompeteten dan memiliki komitmen yang positif (comitted) dalam mewujudkan visi dan misi sebuah organisasi akan selalu bersemangat dan memotivasi rekan-rekan yang lain untuk meraih tujuan yang telah disepakati bersama.

The Right Man in The Right Place (Orang yang Tepat di Tempat yang Tepat)
Selain kompetensi dan komitmen, sikap yang positif dan visi serta misi yang jelas, dalam mewujudkan manajemen organisasi yang efektif dan berkualitas, pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam manajemen kita harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subjektif yang didasarkan pada like and dislike.
Prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. Kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan. Oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

Win – Win Concept (Berpikir Menang - Menang)
Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People mengungkapkan bahwa berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati (mutual respect) dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan organisasi, para anggotanya berpikir secara saling tergantung dengan istilah “kita”, bukannya “aku”.
Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Effective Communication (Komunikasi Efektif)
Komunikasi yang efektif merupakan syarat mutlak terciptanya sinergi dalam sebuah organisasi. Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga: bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Organisasi yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar sehingga akan mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2).  Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).
Komunikasi yang efektif akan menjadi bingkai pola kerjasama dan efektivitas pembagian kerja yang didasarkan pada prinsip the right man in the right place. Tanpa adanya komunikasi interaktif di antara semua komponen yang ada dalam sebuah organisasi, akan tercipta batasan-batasan yang membuat seseorang hanya bekerja pada bagian tertentu saja. Mereka fokus dengan tugas mereka. Namun, mereka lupa akan visi dan misi yang disepakati bersama. Namun demikian, hal tersebut tentu tidak akan terjadi seandainya komunikasi yang efektif terjalin di antara setiap komponen organisasi. Dengan komunikasi yang efektif, pola kerja akan didasarkan pada sistem teamwork (kerja tim) yang didasarkan pada pencapaian visi dan misi bersama.
Sharpening The Saw (Konsep Asah Gergaji)
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus baik secara fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Hal inilah yang meningkatkan kapasitas kita untuk menerapkan prinsip-prinsip efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, konsep asah gergaji akan menggalakkan visi dan misi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru.


Pada akhirnya, manajemen adalah sistem yang akan menentukan kesuksesan atau kemunduran suatu organisasi. Manajemen yang efektif dan berkualitas ditopang oleh prinsip-prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas pula.
comments | | Read More...

Blogger news

About

datarislamiyah.blogspot.co.id adalah media dakwah dan tarbiyah Islam Indonesia.

Blogroll

 
Design Template by Jaruki A. Maulana | Supported by Editor | Powered by Blogger