News Update :
Powered by Blogger.

ETIKA BERBICARA

Penulis : Jaruki A. Maulana on Sunday, 27 March 2016 | 17:38

Sunday, 27 March 2016

  1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia". (An-Nisa: 114). 
  2. Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.  
  3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan: "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 
  4. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu di dalam hadisnya menuturkan: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar".(HR. Muslim)
  5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani). 
  6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu 'anha. telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya". (Mutta-faq'alaih).
  7. Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang mu'min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya". (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani). 
  8. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani). 
  9. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).  
  10. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.  
  11. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. 
  12. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan. 
  13. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11). 

comments | | Read More...

ADAB - ADAB DI MASJID

1.      Menuju Masjid
Sahabat mulia Ibnu Mas’ud ra memberikan tuntunan kepada kita ketika sedang berjalan menuju rumah Allah, sebuah do’a yang artinya sbb :
Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di mataku, cahaya dari belakangku, cahaya dari mukaku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, berikanlah aku cahaya”, ( HR. Bukhari Muslim, shahih ).

2.      Berjalan Dengan Tenang dan Khidmat
Rasulullah SAW telah bersabda :
“Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah”, ( Muttafaq’alaih ).

3.      Berdo’a, Dahulukan yang Kanan
Tak jarang, karena lupa atau nggak tahu, pemandangan slonong boy kerap kali terjadi. Banyak dari kita ketika memasuki masjid melupakan sebuah tuntunan Rasulullah SAW yakni berdo’a. Sesuai sabda Nabi :
Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka bersholawatlah kepada Nabi SAW, kemudian ucapkanlah, ”Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmatmu”, dan apabila keluar, ucapkanlah, Ya Allah, aku memohon sebagian karunia kepadaMu.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, An Nasai).
Dalam sumber yang berasal dari A’isyah ra dikatakan :
Rasulullah SAW menyukai mendahulukan yang kanan dalam bersandal, bersisir, bersuci dan seluruh kegiatannya.” (Bukhari – Muslim).

4.      Tebarkan Salam
Dalah hal ini, Allah ’Azza wa Jalla berfirman :
Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu mengucapkan salam kepada penghuninya sebuah salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik.” (QS. An Nur: 61)
Sebuah hadits juga menerangkan,
Suatu hari Rasulullah SAW lewat di masjid dan terdapat sekelompok wanita yang sedang duduk-duduk. Maka beliau pun melambaikan tangan sambil berucap salam.” (HR. Tirmidzi ).
Dari hadits tersebut terkandung sebuah makna yang mesti kita pahami, bahwa sebuah sunnah yang baik untuk kita lakukan ketika masuk masjid adalah menebar salam kepada orang yang berada di dalamnya, seperti halnya yang telah dilakukan Rasulullah SAW.

5.      Awali Dengan Dua Raka’at
Nah, sebelum duduk, sunnah yang sangat penting kita perhatikan adalah melakukan sholat sunnah dua raka’at (tahiyatul masjid).
Rasulullah SAW bersabda, sebagai bentuk anjuran dan penekanan kepada umatnya,
Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, maka sholatlah dua raka’at sebelum duduk.” (HR. Muslim).

6.      Bau Tak Sedap? Hindari!
Etika yang banyak sekali tidak diperhatikan oleh sebagian orang adalah tidak mau menjaga dirinya dari bau yang tidak sedap, padahal Nabi kita telah bersabda :
Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka hendaklah ia menjauhi masjid kami dan duduk di rumahnya.” (HR. Muslim).
Dalam sumber lain dikatakan,
Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka janganlah ia mendekati masjid kamu, sebab para malaikat terganggu oleh apa yang mengganggu keturunan Adam.”
Hadits tersebut merupakan dalil kuat bagi larangan masuknya seorang yang memakan bawang putih dan semisalnya ke masjid, meski masjid tersebut dalam keadaan kosong. Hal ini berdasarkan keumuman larangan yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah SAW.

7.      Mesti Menjaga Kebersihan
Sampah berserakan, kotoran di mana-mana dan sederet noda berjibun di dalam masjid. Fenomena seperti ini sering kali kita lihat. Masjid yang sedianya sebagai tempat untuk beribadah seperti: dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat, bermajelis ilmu dan lainnya, sering terusik dan terganggu karena adanya kotoran dan najis. Kita lupa akan sebuah peringatan yang dikeluarkan lisan mulia Rasulullah SAW,
Sesungguhnya masjid ini tidaklah patut untuk sesuatu berupa kencing dan kotoran, kecuali untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an”. (HR. Muslim).

8.      Dahulukan Kaki Kiri
Ketika keluar masjid, sunnah yang sangat ditekankan Rasulullah SAW dengan mendahulukan kaki kiri sembari berdo’a,
Ya Allah, aku memohon sebagian karunia kepadaMu.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, An Nasai).

9.      Yang Terlarang, Jangan Lakukan !
Sebenarnya banyak sekali yang mesti kita hindari ketika berada di dalam masjid. Namun disini akan kita sajikan beberapa hal, dengan harapan yang terlarang ini dapat kita waspadai dan kita hindari.

Lewat Di Depan Orang yang Sedang Shalat
Rasulullah SAW bersabda,
Seandainya orang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang bakal ditanggungnya, maka menunggu selama empat puluh, lebih baik baginya ketimbang lewat di hadapan orang shalat.” Abu Nadhar mengatakan, ”Saya tidak mengetahui, apakah beliau mengatakan empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.” (Riwayat Jama’ah).

Mengeraskan Suara
Larangan ini didasarkan pada sebuah sumber yang berasal dari As-Saib Bin Yazid, ia menuturkan,
Ketika aku sedang berdiri di masjid, tiba-tiba seseorang melemparku dengan kerikil. Aku pun menoleh kepadanya, ternyata ia adalah Umar Bin Khattab. Ia berkata, ”Pergilah dan datangkan dua orang tersebut!” Lalu aku membawa kedua orang tersebut. Umar berkata, ”Siapa dan dari mana kalian?” keduanya menjawab, ”Dari Thaif.” Umar kemudian berkata, ”Seandainya kalian adalah penduduk negri ini, tentu akan membuat kalian pingsan, (lantaran) kalian meninggikan suara di masjid.” (HR. Bukhari).
Isyarat larangan ini ditujukan bagi sesuatu yang tidak ada faedahnya, sedangkan sesuatu yang di dalamnya terkandung manfaat dan darurat, maka boleh sebagaimana pendapat Imam Al-Bukhari.

Jual-Beli
Secara asal hukum jual beli adalah mubah (boleh), namun ketika transaksi ini dilakukan di dalam masjid, menjadi terlarang alias tidak boleh. Rasulullah SAW menegaskan larangan ini dalam sabdanya,
Apabila kalian melihat orang yang melakukan jual-beli di dalam masjid, maka katakanlah, ”Semoga Allah tidak menjadikan untung dalam perdaganganmu.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ad-Darimi).
Dalam riwayat lain disebutkan,
Bahwasanya Rasulullah SAW melarang jual-beli di dalam masjid.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan lainnya).

Mencari dan Mengumumkan Kehilangan
Masjid dibangun untuk urusan akhirat, bukan untuk kepentingan duniawi, terlebih pribadi maupun golongan. Makanya Rasulullah SAW bersabda,
Barang siapa mendengar seseorang kehilangan di dalam masjid, maka katakanlah, ”Allah tidak mengembalikan barangmu” sebab masjid dibangun bukan untuk kepentingan itu.” (HR. Muslim).

Pakai Pakaian yang Menganggu
Pakaian yang nyeleneh atau berlebihan corak dan ragamnya dapat pula menyebabkan tidak khusyu’nya orang lain dalam melakukan sholat. Pasalnya ia akan terbayang dengan pakaian yang dikenakan oleh temannya. Makanya, ketika Aisyah menjadikan kain bajunya sebagai gorden sisi rumahnya, Rasulullah SAW bersabda,
Jauhkanlah gorden (beraneka warna) ini dari sisi kami, sebab gambar-gambarnya senantiasa tampak dalam shalatku.”.(HR. Bukhari).

Campur Baur
Tentunya larangan ikhtilat (campur baur) ini tak terbatas di dalam masjid saja, tetapi juga di tempat lain. Karena teks larangan dalam hal ini bersifat umum. Rasulullah SAW bersabda,
Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita. Sebab yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad).

10.  Boleh Dilakukan
Selain berfungsi khusus sebagai tempat ibadah, masjid juga boleh dipergunakan sebagai ajang untuk melakukan aktifitas lain, yang tentunya diperbolehkan syariat, seperti :
Mengadakan Majelis Ilmu
Tidur di dalam Masjid
Berlatih Ketangkasan
Tempat Pengobatan

Referensi :

Bulughul Maram. Al Hafidh Ibnu Hajar Asqalany. Terjemahan MS Sukandy.
comments | | Read More...

The 7 Principles of The Quality Management

Manajemen yang secara etimoligis berpadanan dengan kata management memiliki arti seni mengatur dan melaksanakan. Manajemen merupakan ilmu dalam perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari manusia untuk menentukan capaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan (Lee, 2010).Tentunya, peran manajemen sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatur segala pekerjaan. Manajemen berfungsi agar segala pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik secara tersistematis. Dengan demikian, prinsip manajemen yang efektif merupakan dasar-dasar dan nilai yang menjadi inti dari keberhasilan sebuah manajemen baik dalam sebuah keluarga, grup maupun organisasi. Beranjak dari gagasan tersebut, artikel ini akan mengungkapkan tujuh prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas.

Clear Vision and Mission (Visi dan Misi yang Jelas)
Visi dan misi yang jelas merupakan prinsip manajemen yang pertama. Stephen R. Covey, seorang tokoh kepemimpinan internasional yang ahli dalam soal keluarga, konsultan organisasi dan pengajar kehidupan yang terpusat pada prinsip dan kepemimpinan terpusat, mengungkapkan bahwa segalanya diciptakan dua kali: pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya.
Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan dalam mewujudkan manajemen yang efektif dan berkualitas.
Dengan demikian, visi dan misi yang jelas merupakan hal utama dan yang paling utama untuk disepakati bersama. Dengan visi yang kemudian diwujudkan dalam misi yang disepakati bersama, maka sebuah organisasi dapat dijalankan secara terarah.

Attitude (Sikap)
Attitude (akhlak) merupakan bagian yang penting dalam berorganisasi. Tanpa attitude yang baik, mungkin seseorang tidak akan pernah bisa diterima atau berinteraksi dengan baik. Mengapa attitude sangat perlu untuk diperhatikan? Karena attitude menyangkut bagaimana penilaian orang lain terhadap seseorang. Oleh karena itu, untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan organisasi, seseorang harus memiliki sikap yang baik di antara atasan dengan bawahan, bawahan dengan bawahan dan lain sebagainya. Attitude yang baik akan menciptakan kesalingpemahaman (mutual understanding) yang akan menentukan kesuksesan suatu organisasi.
Sebuah studi yang dilakukan di Harvard University menunjukkan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan atau promosi, 85% diantaranya disebabkan oleh attitude-nya, dan hanya 15% yang disebabkan oleh pengetahuan dan kepandaian. Maka, fondasi dari kesuksesan adalah attitude atau sikap diri. Untuk itu, attitude sangatlah penting. Mengapa demikian? Karena ketika attitude kita benar, kita sadar bahwa kesempatan selalu ada dalam genggaman kita. Kita tidak harus pergi   kemana-mana. Mungkin ada yang terlintas bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun, sesungguhnya ketika kita mengincar rumput tetangga, ada orang lain yang mengincar rumput di tempat kita. Mereka akan senang untuk bertukar tempat dengan kita. Oleh sebab itu, kenapa sangat penting untuk mengambil sikap dan keputusan yang tepat di saat yang tepat? Karena sikap dan keputusan yang tepat pada waktu yang salah akan menjadi keputusan yang salah.
Orang dengan attitude yang positif mempunyai beberapa kepribadian yang mudah dikenali. Mereka peduli, percaya diri, sabar dan rendah hati. Mereka selalu percaya akan hasil yang positif. Oleh sebab itu, attitude yang positif harus terus ditumbuhkembangkan menjadi ciri kepribadian dominan kita.
Sebaliknya, attitude yang negatif membawa kepada hidup yang tidak berarti, kesehatan yang terganggu dan tingkat stress yang tinggi bagi mereka dan orang di sekitarnya. Attitude yang negatif menciptakan lingkungan yang tidak nyaman di rumah dan tempat kerja. Mereka menularkan attitude yang negatif kepada orang-orang di sekitarnya.

Qualified Vs Committed (Kompeten Vs Berkomitmen)
Kompetensi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dan anggota dalam suatu orgaminasi. Seseorang yang kompeten (qualified) akan memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan visi dan misi suatu ornanisasi. Namun, kompetensi saja ternyata tidak cukup. Komitmen untuk menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawab merupakan kunci penting tercapainya tujuan yang diinginkan. Seseorang yang kompeteten dan memiliki komitmen yang positif (comitted) dalam mewujudkan visi dan misi sebuah organisasi akan selalu bersemangat dan memotivasi rekan-rekan yang lain untuk meraih tujuan yang telah disepakati bersama.

The Right Man in The Right Place (Orang yang Tepat di Tempat yang Tepat)
Selain kompetensi dan komitmen, sikap yang positif dan visi serta misi yang jelas, dalam mewujudkan manajemen organisasi yang efektif dan berkualitas, pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam manajemen kita harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subjektif yang didasarkan pada like and dislike.
Prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. Kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan. Oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

Win – Win Concept (Berpikir Menang - Menang)
Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People mengungkapkan bahwa berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati (mutual respect) dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan organisasi, para anggotanya berpikir secara saling tergantung dengan istilah “kita”, bukannya “aku”.
Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Effective Communication (Komunikasi Efektif)
Komunikasi yang efektif merupakan syarat mutlak terciptanya sinergi dalam sebuah organisasi. Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga: bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Organisasi yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar sehingga akan mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2).  Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).
Komunikasi yang efektif akan menjadi bingkai pola kerjasama dan efektivitas pembagian kerja yang didasarkan pada prinsip the right man in the right place. Tanpa adanya komunikasi interaktif di antara semua komponen yang ada dalam sebuah organisasi, akan tercipta batasan-batasan yang membuat seseorang hanya bekerja pada bagian tertentu saja. Mereka fokus dengan tugas mereka. Namun, mereka lupa akan visi dan misi yang disepakati bersama. Namun demikian, hal tersebut tentu tidak akan terjadi seandainya komunikasi yang efektif terjalin di antara setiap komponen organisasi. Dengan komunikasi yang efektif, pola kerja akan didasarkan pada sistem teamwork (kerja tim) yang didasarkan pada pencapaian visi dan misi bersama.
Sharpening The Saw (Konsep Asah Gergaji)
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus baik secara fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Hal inilah yang meningkatkan kapasitas kita untuk menerapkan prinsip-prinsip efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, konsep asah gergaji akan menggalakkan visi dan misi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru.


Pada akhirnya, manajemen adalah sistem yang akan menentukan kesuksesan atau kemunduran suatu organisasi. Manajemen yang efektif dan berkualitas ditopang oleh prinsip-prinsip manajemen yang efektif dan berkualitas pula.
comments | | Read More...

Blogger news

About

datarislamiyah.blogspot.co.id adalah media dakwah dan tarbiyah Islam Indonesia.

Blogroll

 
Design Template by Jaruki A. Maulana | Supported by Editor | Powered by Blogger